Powered By Blogger

Pages

Cabai Hidroponik Nasa

Efisiensi pupuk organik cabai dipupuk dengan pupuk organik nasa kemudian air fermentase mengalir ke kolam ikan.

Kunjungan Bupati Pati

Wakil Bupati Pati Ibu kartina Mengunjungi Panen raya Padi Organik Nasa.

Lab. Nasa Pantai pandan Simo

Mengubah Gersangnya lahan pasir menjadi wilayah agro yang subur dengan berbagai komoditas nasa.

Solusi Para Petambak

Paket Tambak Organik Nasa Solusi cerdas dan Sukses petani Tambak.

Teknologi Sawit Organik Nasa

Teknologi Kelapa Sawit Dengan Pupuk Organik Nasa.

Tampilkan postingan dengan label Artikel Agrokompleks. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel Agrokompleks. Tampilkan semua postingan

Teknis BUDIDAYA PEPAYA CALIFORNIA dengan sistem pemupukan organik nasa

[BUDIDAYA PEPAYA CALIFORNIA]

#Peluang Budidaya Pepaya California Yang Sangat Menjanjikan#

PEPAYA CALIFORNIA

budidaya pepaya californiaVarietas pepaya baru yang kini digandrungi para petani karena menjanjikan keuntungan. Pepaya California memiliki keunggulan tersendiri. Buahnya lebih manis, tahan lama, dan bisa dipanen lebih cepat dibandingkan pepaya varietas lain.

Syarat tumbuh

Tanaman dapat tumbuh pada dataran rendah dan tinggi 700 – 1000 mdpl, curah hujan 1000 – 2000 mm/tahun, suhu udara optimum 22 – 26 derajat C dan kelembaban udara sekitar 40% dan angin yang tidak terlalu kencang sangat baik untuk penyerbukan.
Tanah subur, gembur, mengandung humus dan harus banyak menahan air, pH tanah yang ideal adalah netral dengan pH 6 -7.


Pembibitan

Persyaratan Bibit/Benih
Biji-biji yang digunakan sebagai bibit diambil dari buah-buah yang telah masak benar dan berasal dari pohon pilihan. Buah pilihan tersebut di belah dua untuk diambil biji-bijinya. Biji yang dikeluarkan kemudian dicuci bersih hingga kulit yang menyelubungi biji terbuang lalu dikeringkan ditempat yang teduh. Biji yang segar digunakan sebagai bibit. Bibit jangan diambil dari buah yang sudah terlalu masak/tua dan jangan dari pohon yang sudah tua.
Penyiapan Benih
Kebutuhan benih per hektar 60 gram (± 2000 tanaman). Benih direndam dalam laruran POC NASA kurang lebih 2-3 jam lalu ditiriskan.Kemudian disemai dalam polybag ukuran 20 x 15 cm. Media yang digunakan merupakan campuran 2 ember tanah yang di ayak ditambah 1 ember pupuk kandang yang telah di fermentasikan denga Natural GLIO 2 – 3 minggu.
Teknik Penyemaian Benih
Benih dimasukkan pada kedalaman 1 cm kemudian tutup dengan tanah. Disiram setiap hari. Benih berkecambah muncul setelah 12-15 hari. Pada saat ketinggiannya 15-20 cm atau 45-60 hari bibit siap ditanam.
Biji-biji tersebut bisa langsung ditanam/disemai lebih dahulu. Penyemaian dilakukan 2 atau 3 bulan sebelum bibit persemaian itu dipindahkan ke kebun.
Pemeliharaan Pembibitan/Penyemaian
Pada persemaian biji-biji ditaburkan dalam larikan (barisan) dengan jarak 5 – 10 cm. Biji tidak boleh dibenam dalam-dalam, cukup sedalam biji, yakni 1 cm. Dengan pemeliharaan yang baik, biji-biji akan tumbuh sesudah 3 minggu ditanam. setelah tumbuh Semprotkan POC NASA + Hormonik dengan interval seminggu sekali.
Bibit-bibit yang sudah dewasa, sekitar umur 2 – 2,5 bulan dapat dipindahkan pada permulaan musim hujan.
Pengolahan Media Tanam

Persiapan
Lahan dibersihkan dari rumput, semak dan kotoran lain, kemudian dicangkul/dibajak dan digemburkan.
Pembentukan Bedengan
Bentuk bedengan berukuran lebar 200 – 250 cm, tinggi 20 – 30 cm, panjang secukupnya, jarak antar bedengan 60 cm.
Buat lubang ukuran 50 x 50 x 40 cm di atas bedengan, dengan jarak tanam 2 x 2,5 m.
Pengapuran
Apabila tanah yang akan ditanami pepaya bersifat asam (pH kurang dari 5) taburkan Dolomit sekitar 1 kg per lubang tanam dan biarkan 1-2 minggu.
Pemupukan
Sebelum diberi pupuk, tanah yang akan ditanami pepaya harus dikeringkan satu minggu.
Setelah itu masukkan pupuk kandang yang sudah di fermentasikan dengan Natural glio selama 2 minggu ke lubang tanaman dengan ukuran 0,5 – 1 kg per lubang tanam.Lalu tutup tipis dengan tanah.
Teknik Penanaman

Pembuatan Lubang Tanam
Lubang tanam berukuran 50 x 50 x 50 cm, yang digali secara berbaris. Biarkan lubang-lubang kosong agar memperoleh cukup sinar matahari. Setelah itu lubang-lubang diisi dengan  pupuk kandang yang sudah di fermentasikan dengan Natural glio selama 2 minggu ke lubang tanaman dengan ukuran 0,5 – 1 kg per lubang tanam.Lalu tutup tipis dengan tanah.
Biarkan kurang lebih sekitar 3-5 hari dan bibit siap di masukkan ke lubang tanam.
Cara Penanaman
Tiap-tiap lubang diisi dengan 3-4 buah biji. Beberapa bulan kemudian akan dapat dilihat tanaman yang jantan dan betina atau berkelamin dua.
Pemeliharaan Tanaman

Penjarangan dan Penyulaman
Penjarangan tanaman dilakukan untuk memperoleh tanaman betina disamping beberapa batang pohon jantan. Hal ini dilakukan pada waktu tanaman mulai berbunga.
Penyiangan
Kebun pepaya sama halnya dengan kebun buah-buahan lainnya, memerlukan penyiangan (pembuangan rumput). Kapan dan berapa kali kebun tersebut harus disiangi tak dapat dipastikan dengan tegas, tergantung dari keadaan.
Pemupukan
Pohon pepaya memerlukan pupuk  khususnya pupuk organik dan pupuk kimia yang beerimbang sehingga memberikan zat-zat makanan yang diperlukan dan dapat menjaga kelembaban tanah.
Cara pemberian pupuk :

Tiap minggu setelah tanam beri pupuk kimia, 50 gram ZA, 25 gram Urea, 50 gram TSP dan 25 gram KCl, dicampur dan ditanam melingkar
Satu bulan kemudian lakukan pemupukan kedua dengan komposisi 75 gram ZA, 35 gram Urea, 75 gram TSP, dan 40 gram KCl
Saat umur 3-5 bulan lakukan pemupukan ketiga dengan komposisi 75 gram ZA, 50 gram Urea, 75 gram TSP, 50 gram KCl
Umur 6 bulan dan seterusnya 1 bulan sekali diberi pupuk dengan 100 gram ZA, 60 gram Urea, 75 gram TSP, dan 75 gram KCl
Lakuakan  pemupukan campuran dengan  pupuk organik nasa yang berupa Super Nasa dengan dosis 3 kg untuk sekitar 100o tanaman untuk 1,5 – 2 bulan sekali.
Setelah umur 3 bulan semprot dengan POC NASA + HORMONIK + Aero-810 dengan dosis ( 5 + 1 + 1/2 ) tutup / tangki.
Setelah pepaya mulai berbuah untuk setiap pemupukan super nasa tambahkan Power Nutrition sekitar 1 kg untuk 1000 batang tanaman.
Penyemprotan hati – hati pada saat berbunga agar tidak kena bunga yang mekar.
Pengairan dan Penyiraman

Tanaman pepaya memerlukan cukup air tetapi tidak tahan air yang tergenang. Maka pengairan dan pembuangan air harus diatur dengan seksama.
Apalagi di daerah yang banyak turun hujan dan bertanah liat, maka harus dibuatkan parit-parit. Pada musim kemarau, tanaman pepaya harus sering disirami.
Hama dan Penyakit

Kutu tanaman (Aphid sp., Tungau). Badan halus panjang 2 – 3 mm berwarna hijau, kuning atau hitam. Memiliki sepasang tonjolan tabung pada bagian belakang perut, bersungut dan kaki panjang. Kutu dewasa, ada yang bersayap dan tidak. Merusak tanaman dengan cara menghisap cairan dengan pencucuk penghisap yang panjang di bagian mulut. Pengendaliannya : Semprot dengan Natural Glio +  PESTONA + Pentana + aero-810 secara bersamaan.
Penyakit yang sering merugikan tanaman pepaya adalah penyakit yang disebabkan oleh jamur, virus mosaik, rebah semai, busuk buah, leher akar, pangkal batang dan nematoda. Pengendaliannya : penggunaan Natural GLIO dari awal tanam.
Penyakit mati bujang disebabkan oleh jamur Phytophthora parasitica, P. palmivora dan Pythium aphanidermatum. Menyerang buah dan batang pepaya. Pengendaliannya : Perawatan kebun yang baik, menjaga kebersihan, dan drainase serta Pemakaian Natural GLIO dari awal tanam.
Penyakit busuk akar disebabkan oleh jamur Meloidogyne incognita. Cara pengendaliannya : Penggunaan Natural Glio dari awal tanam.
Nematoda. Tanaman yang terinfeksi oleh nematoda menyebabkan daun menguning, layu dan mati. Pengendalian : Penggunaan Natural Gluo dari awal tanam serta penyemprotan natural GLIO + Pestona + Aero810 secar rutin dengan interval 10-15 hari sekali.
Panen dan Pasca Panen

Ciri dan Umur Panen
Tanaman pepaya dapat dipanen setelah berumur 7,5  bulan. Buah pepaya dipetik harus pada waktu buah itu memberikan tanda-tanda kematangan: warna kulit buah mulai menguning. Tetapi masih banyak petani yang memetiknya pada waktu buah belum terlalu matang.
Periode Panen
Panen dilakukan setiap 4 hari sekali.

Rahasia Budidaya Kacang Hijau dan teknis pemupukan agar paneelimpah

[BUDIDAYA KACANG HIJAU]

#Cara Budidaya Kacang Hijau#
KACANG HIJAU

kacang hijau organikKacang hijau merupakan tanaman yang tumbuh didaerah tropis. Suhu yang dibutuhkan untuk budidaya kacang hijau ini suhu yang panas. Pada musim hujan, pertumbuhan vegetatif sangat cepat sehingga mudah rebah.Kacang hijau menyukai tanah gembur dengan saluran pembuangan air yang baik. Tanah sawah bekas padi bisa digunakan untuk lahan penanaman kacang hijau.Pengolahan kering dilakukan dengan cara mencangkul atau dibajak supaya dapat diratakan. Dan setiap 5-6 m dibuat saluran pengairan. Pada lahan kering, kacang hijau ditanam pada akhir musim hujan.




Lubang Tanam
Pembuatan lubang tanam dilakukan dengan cara menggunakan alat tugal bermata tiga. Fungsi dari tugal bermata tiga yaitu lubang pertama untuk menanam bibit kacang hijau, dan lubang yang kedua dan ketiga untuk lubang pupuk.
Lubang tanaman memiliki kedalaman 4 cm dan lubang pupuk sedalam 7-10 cm. jarak antara lubang tanam dan lubang pupuk 7-10 cm.
Cara Penanaman
Sebelum bibit di tanam rendam terlebih dahulu dengan air yang telah di campurkan dengan POC NASA dan rendam selama 3-4 jam.
Setelah 3-4 jam lalu bibit kacang hijau di tiriskan dan siap untuk di masukkan ke lubang tanam.
Setelah tanah sudah dilubangi, kemudian masukan benih pada lubang tanam lalu tutup tipis dengan tanah.
Untuk jarak  tanam yang umum dipakai yaitu panjang 20-20 cm dan lebar 10-20 cm. jika ditanam pada musim penghujan biasanya jaraknya 40 x 15 cm. sedang jika ditanam pada musim kemarau 25 x 25 cm atau 30 x 20 cm.
Cara Pemeliharaan Tanaman

Pengairan
Pengairan pada kacang hijau diperlukan terutama pada lahan sawah irigasi, terutama pada saat tanaman mengalami masa pertumbuhan vegetatif.
Jika ditanam pada sawah tadah tidak perlu diberi air. Sebab tanah masih lembap bila ditanam pada saat masih hujan. Kacang hijau pada masa generatif sedikit memerlukan air.
Penyulaman dan Penyiangan
Penyulaman dapat dilakukan setelah tanaman berumur 17 hari setelah penanaman dilakukan. Penyulaman dilakukan dengan cara menyediakan tanaman cadangan yang ditanam di luar area tanaman. Penyulaman dilakukan jika 5% lubang tanaman tidak ditumbuhi tanaman sempurna.
Penyiangan biasanya dilakukan dua kali. Pertama ketika tanaman sudah berumur 2 minggu dan kedua pada waktu berumur satu bulan. Penyiangan dilakukan untuk membersihkan tanaman pengganggu atau gulma.
Pemupukan
Pemupukan dilakukan dua kali :
Pertama diberikan pada saat tanam.
Kedua diberikan menjelang tanaman berbunga atau pada saat tanaman umur satu bulan.
Adapun Dosis pupuk yang diberikan adalah untuk Pupuk Nasanya yaitu super nasa 3 kg /Ha. dan untuk pupuk kimianya yaitu Urea/ZA 50-100 kg/ha TSP 100 kg/ha dan KCL 50-75 kg/ha.
Cara pemupukan,setelah pupuk nasa dan pupuk kimia di aduk menjadi satu lalu  pupuk dimasukan ke lubang kemudian ditutup dengan tanah jarak lubang pupuk 5-6 cm. kemudian lubang kedua yang jaraknya 10 cm kemudian tutup dengan tanah. Pupuk jangan sampai kontak langsung dengan benih, karena perkecambahan akan terhambat.
Pengendalian Hama dan Penyakit
Jenis-jenis Hama :
Lalat kacang :
ciri-cirinya tubuh kecil berukuran 1,5 mm, warna hitam mengkilap, siang hari bersembunyi di dalam rumput, dan kepompongnya atau pupa berwarna coklat.
Dampak pada tanaman, terdapat bercak-bercak pada daun pertama, polong yang diserang gugur, daun mulai layu dan kekuning-kuningan, tanaman akan mati saat berumur 3-4 minggu.
Pengendaliannya :
Penanaman secara  serempak dan tanam bergilir.
Penggunakan Produk Nasa yang berupa Natural Glio yang telah di fermentasikan dengan pupuk kandang dari sebelum tanam.
Olah tanah yang bagus dengan memakai Pupuk Organik NASA yang berupa super nasa  di campurkan pupuk kimia dasar yang biasa di pakai. pupuk kimia dasar bisa di kurangi 30 % dari anjuran dinas pertanian setempat.
Penyemprotan Pestisida organik Nasa yang berupa Glio + Pestona + pentana + aero-810 dari tumbuh daun 4-5 sampai panen.Dengan interval 7 – 10 hari sekali.
Ulat Jengkal :
Ciri-cirinya : tubuhnya berwarna hijau, ukurannya 2-3 cm, dan jalannya menyungkal.
Dampak pada tanaman, menyerang tanaman yang sudah tua, dan menyerang daun hingga tulang daun.
Pengendaliannya :
Musnahkan telur dan larvanya.
Penanaman secara  serempak dan tanam bergilir.
Penyemprotan Produk nasa yang berupa Vitura / Virexi + Aero-810  dengan interval 5-7 hari sekali.
Penggerek Polong :
Ciri-cirinya, larva berwarna merah kebiruan pada waktu kecil, dan setelah besar berwarna hijau, dan bentuk larva gemuk licin.
Dampak pada tanaman, membuat lubang pada polong, memakan biji, gejala bercak hitam, adanya lubang bulat pada polong, dan biji pada polong habis dimakan.
Pengendaliannya :
Penanaman secara  serempak dan tanam bergilir.
Penyemprotan Pestisida organik Nasa yang berupa Glio + Pestona + pentana + aero-810 dari tumbuh daun 4-5 sampai panen.Dengan interval 7 – 10 hari sekali.
Ulat penggulung daun :
Ciri-cirinya, ulat berwarna hijau terang, dan kupu-kupu kecil berwarna coklat muda.
Dampak pada tanaman, daun menggulung ke dalam/keriting karenasel-sel bagian atasnya mengerut dan menurunkan hasil, karena proses fotosintesis terganggu.
Pengendaliannya :
Membuang daun yang menggulung, mematikan ulatnya.
Penyemprotan Produk nasa yang berupa Vitura / Virexi + Aero-810  dengan interval 5-7 hari sekali.
Jenis-jenis Penyakit
Bercak daun.
Pengendaliannya : Penyemprotan Pestisida organik Nasa yang berupa Glio + Pestona + pentana + aero-810 dari tumbuh daun 4-5 sampai panen.Dengan interval 7 – 10 hari sekali.
Karat daun :
Pengendaliannya :
menaman varietas tahan penyakit.
Penyemprotan Pestisida organik Nasa yang berupa Glio + Pestona + pentana + aero-810 dari tumbuh daun 4-5 sampai panen.Dengan interval 7 – 10 hari sekali.
Kudis
Pengendaliannya :
Penanam varietas tahan penyakit.
Tanaman dicabut dan dibakar.
Penyemprotan Pestisida organik Nasa yang berupa Glio + Pestona + pentana + aero-810 dari tumbuh daun 4-5 sampai panen.Dengan interval 7 – 10 hari sekali.
Embun tepung
Pengendaliannya
Dengan menanam varietas yang tahan penyakit.
Penyemprotan Pestisida organik Nasa yang berupa Glio + Pestona + pentana + aero-810 dari tumbuh daun 4-5 sampai panen.Dengan interval 7 – 10 hari sekali.

Panen dan Pascapanen
Umur kacang hijau umunya 58-85 hari, pemungutan panen dapat dilakukan ketika sebagian besar polong telah kering dan mudah pecah, panen dilakukan dengan dipetik dan dilakukan pada pagi hari.
Polong yang sudah dipetik kemudian dijemur setelah kuning masukan kedalam karung dan dipukul-pukul agar biji terlepas dari polong, dan setelahn itu lakukan penapian untuk memisahkan biji-biji yang rusak.
Biji yang sudah bersih kemudian dijemur lagi sampai 2-3 hari.


KONSULTASI DAN PEMESANAN PRODUK NASA:

HENDY SUSANTO ST 

TELKOMS : 0813 7254 3994
IND XL       :0877 4977 9087
INDOSAT   :0857 9930 0051

BBM 7FEEDB79

Cara Budidaya Dengan Teknik Ganti Air praktis dan sehat ikan cepat besar

PERIKANAN ORGANIK DENGAN TEKNIK GANTI AIR YANG TEPAT


ganti air sirkulasi air pada perikanan

Pendahuluan

Perikanan organik merupakan trend yang semakin menjadi tuntutan untuk menghasilkan produk perikanan yang aman, sehat, bergizi dan tetap menjamin kelestarian lahan budidaya. Untuk itu diperlukan sarana produksi yang ramah lingkungan dan cara budidaya perikanan yang benar.

Salah satu hal  yang harus diperhatikan untuk berbudidaya yang benar adalah harus mengetahuiteknik pergantian air yang tepat.

                                                       Video Budidaya Ikan Praktis





Pergantian air kolam diperlukan jika memang harus ganti air, artinya kita melakukan ganti air jika memang kondisi air pada saat itu mengharuskan untuk diganti.  Air yang berkualitas jelek disebabkan oleh penumpukan hasil penguraian bahan organik yang masuk ke kolam. Bahan organik tersebut berupa kotoran ikan, ikan yang mati, pakan yang tidak termakan, plankton yang mati dan tumbuh-tumbuhan air yang mati jika ada.

                              
                                                   SALAM SUKSES !!

KONSULTASI DAN PEMESANAN PRODUK NASA:

HENDY SUSANTO ST 

TELKOMS : 0813 7254 3994
IND XL       :0877 4977 9087
INDOSAT   :0857 9930 0051

BBM 7FEEDB79

MELAYANI PEMESANAN DALAM DAN LUAR NEGERI, GROSIR & ECER.
Distributor dan Reseller Silahkan hubungi kontak diatasMELAYANI PEMESANAN DALAM DAN LUAR NEGERI, GROSIR & ECER.



Ciri-ciri air yang jelek adalah sebagai berikut  :

  1. Air berbusa, hal ini menunjukkan sudah tingginya timbunan bahan organik yang ada di kolam, sehingga harus dibuang. Karena timbunan bahan organik tersebut berada di dasar kolam, maka yang harus dibuang adalah air bagian bawah tersebut. Pada kolam tanah sebisa mungkin dibuat saluran pembuangan di bagian tengah yang memungkinkan bisa membuang timbunan bahan organik di dasar  kolam. Jika tidak bisa membuat saluran pembuangan tersebut, pembuangan bisa dilakukan dengan pompa penyedot air. Pada kolam bak juga harus dibuat konstruksi berupa saluran pembuangan air bagian bawah.

  2. Air kotor, meterial yang mengkotori air kolam bisa mengganggu kehidupan ikan atau udang, sehingga harus dibuang dan airnya diganti yang baru.

  3. Air pekat, yang dimaksud dengan air pekat adalah jika air sudah penuh dengan bahan-bahan yang terlarut, misalnya lumpur, material pencemar lain dari luar.

Jika kita bisa menjaga kualitas air selalu baik selama proses budidaya maka kita bisa tidak melakukan ganti air selama budidaya. Pemakaian pupuk organik TON dan pemakaian probiotik yang tepat akan selalu menjaga kualitas air budidaya, sehingga bisa meningkatkan tingkat keberhasilan budidaya.

Hal ini sudah terbukti di beberapa daerah yang menggunakan produk TON, misalnya di Kendal, Gresik, untuk tambak udang dan bendeng dan di Jogja untuk budidaya lele.

aturan ganti air kolam TON tambak organik natural
Mari kita galakkan budidaya perikanan yang ramah lingkungan atau perikanan organik.

Teknis Budidaya Peternakan Kambing Efektif cepat besar dan sehat

PENDAHULUAN

            SALAM SUKSES PETANI MODERN!!

Peluang usaha ternak kambing masih sangat potensial untuk digarap. Terutama untuk jenis ternak kambing gibas potensinya masih sangat bagus. Apabila dikelola dengan menerapkan manajemen ternak kambing secara profesional, prospek ternak kambing gibas mempunyai potensi hasil yang besar. Apalagi pasokan dalam negeri juga masih sangat kurang, tentu saja memberikan harapan cerah bagi para peternak kambing saat ini agar terus semangat.

Salah satu perusahaan yang bergerak di bidang agrokomplek, PT Natural Nusantara sangat mensupport budidaya ternak kambing gibas. Bentuk dukungan kepada para peternak tersebut adalah dengan rajin menggelar training atau pelatihan ternak kambing secara profesional. Selain menggelar pelatihan peternakan kambingPT. Natural Nusantara juga mengeluarkan serangkaian produk nutrisi ternak berkualitas tinggi untuk mendukung keberhasilan budidaya ternak kambing tersebut.

Memang terdapat banyak faktor pendukung agar keberhasilan budidaya ternak kambing bisa berhasil gemilang. Mulai dari pemilihan bibit ternak kambingmanajemen kandang ternak kambing, manajemen pakan ternak kambing, dan pemeliharaan kesehatan ternak kambing.

                                                  lihat video berikut   




1. Pembuatan Kandang Ternak Kambing


kandang kambing
Model kandang ternak kambing yang akan dibahas kali ini barangkali berbeda dengan model kandang ternak kambing tradisional pada umumnya. Hal ini mengacu pada cara pemberian pakan, ruang gerak, dan tempat penampungan kotoran. Desain kandang dibuat sedemikian rupa agar pada saat makan posisi tubuh kambing benar-benar dalam posisi yang baik, karena akan berpengaruh pada proses metabolisme.






kandang kambing konstruksi
Penampungan kotoran kambing juga di setting sedemikian rupa agar kotoran yang dihasilkan lebih mudah dibersihkan dan dikumpulkan yang nantinya bisa diolah sebagai bahan baku pupuk organik.
Ukuran kandang kambing yang paling ideal adalah 3 x 1,5 meter untuk 10 ekor kambing. Disetting demikian karena jenis ternak kambing gibas adalah jenis kambing yang biasa hidup berkelompok. Sehingga ukuran yang terlalu lebar justru akan memboroskan ruangan, sekaligus menguras banyak kalori tubuh ternak kambing itu sendiri.


                                                    Tonton Juga Video Budidaya berikut


2. Pemilihan Bibit

Pemilihan bibit ternak kambing harus selektif. Bibit adalah faktor pertama dan cukup menentukan keberhasilan dalam budidaya ternak kambing ke depan. Semakin baik bibit yang didapat, maka potensi keberhasilan budidaya pun akan lebih dekat.

Ada beberapa yang bisa dijadikan acuan dalam tips memilih bibit ternak kambing gibas yang baik, di antaranya :
  • Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan untuk yang ekornya gemuk berbentuk cambuk, hasilnya  tidak bisa maksimal, kecepatan pembentukan daging sangat lambat.
  • Sedangkan untuk yang ekor gemuk (EG) telah dirasakan oleh beberapa peternak, bahwa hasilnya lebih maksimal dan target penggemukan selama 3 bulan bisa terwujud.
Sedangkan untuk faktor usia sebaiknya pilih yang sudah mencapai usia minimal 6 bulan. Hal ini dengan pertimbangan di usia 4 bulan, ternak kambing memiliki tubuh yang sudah terkonsentrasi untuk pembentukan daging sehingga tentu saja akan lebih mudah digemukkan.

Dan apabila usia kambing di bawah 6 bulan, maka tubuh kambing masih dalam pembentukan tulang. Sehingga masih membutuhkan waktu untuk siap digemukkan. Tentunya pertimbangan waktu juga harus dihitung dalam manajemen budidaya peternakanyang baik agar keuntungan bisa optimal.

3. Pembuatan Pakan

pakan ternak kambing
Ada beberapa jenis bahan dasar untuk pembuatan pakan ternak kambing yang bisa dipilih. Dan tentu saja bisa disesuaikan dengan yang tersedia di lingkungan sekitar.


Apabila di lingkungan sekitar banyak terdapat jerami, maka bisa dijadikan bahan dasar pembuatan pakan. Dan Jerami yang sangat bagus nilai gizinya adalah Jerami kangkung. Untuk jerami padi memang cukup bagus, tetapi tidak sebagus jerami kangkung.

Memanfaatkan jerami padi juga perlu sedikit berhati-hati karena ada beberapa bagian pada jerami padi yang justru bersifat merusak rumen ternak. Apabila hal ini terjadi maka ternak hanya akan terlihat besar pada bagian perutnya saja.

Beberapa jenis bahan yang bisa dipakai untuk bahan dasar pembuatan pakan ternak kambing adalah :
  • Jerami, dari tanaman pertanian (padi, jagung, tebu, kangkung, kedelai dll)
  • Kulit umbi-umbian (Kulit singkong, ubi jalar dll)
  • Kulit kacang-kacangan (kulit kacang tanah, kulit kopi dll).
  • Sayur-sayuran (untuk menekan biaya, bisa menggunakan sisa-sisa sayur dari pasar, dengan pola fermentasi   basah)
  • Daun-daunan, baik yang masih basah maupun yang telah kering
Terlebih dahulu bahan dasar pakan tersebut harus difermentasi sebelum diberikan pada ternak kambing. Untuk fermentasi bahan pakan tersebut Anda bisa menggunakan produk Natural Nusantara (NASA), yaitu Tangguh Probiotik Pakan Ternak.

tangguh probiotik tangguh untuk ternak dan perikanan
TANGGUH Probiotik Pakan Ternak merupakan formula khusus untuk proses fermentasi pakan ternak yang dibuat dari bahan-bahan organik murni sesuai anjuran dunia untuk kembali ke alam, dengan fungsi utama menghasilkan pakan fermentasi yang berkualitas dengan meningkatkan gizi, cita rasa, dan palatabilitas (tingkat kesukaan ternak).




Untuk proses fermentasi pakan sendiri antara satu bahan pakan dengan bahan pakan yang lain membutuhkan waktu yang berbeda. Untuk jenis bahan pakan kering, proses fermentasi menggunakan Tangguh Probiotik membutuhkan waktu minimal 24 jam. Sedangkan untuk jenis bahan pakan basah (daun basah/hijau) hanya membutuhkan waktu minimal 3 jam. Setelah difermentasi secara sempurna selanjutnya diberikan kepada ternak kambing.

4. Tips Pemeliharaan Kesehatan Ternak Kambing 

Untuk mendukung kesehatan ternak kambing tentunya kebutuhan nutrisi ternak harus terpenuhi dengan baik. Untuk itu PT Natural Nusantara juga memberikan dukungan berupa produk nutrisi ternak, yaitu Viterna Plus dan POC NASA.

poc nasa pada ternak kambing organik
Viterna Plus dan POC Nasa adalah nutrisi alami yang terbuat dari berbagai bahan alami yang sangat kaya dengan kandungan vitamin dan unsur-unsur penting lainnya yang sangat bermanfaat bagi pertumbuhan kesehatan ternak kambing.


Pemberian Viterna Plus dan POC Nasa bisa dilakukan dengan cara mencampurkannya melalui air minum atau komboran pakan. Pemberian Viterna Plus dan POC Nasa secara rutin terbukti berdampak sangat besar dalam pertumbuhan ternak kambing.

Nafsu makan meningkat tajam, pertumbuhan daging juga berlangsung lebih cepat, dan kotoran yang dihasilkan juga menjadi tidak berbau. Dengan demikian pemeliharaan ternak kambing di lingkungan yang padat penduduk pun menjadi sangat mungkin dilakukan karena bau kotoran bisa dihilangkan.


viterna plus untuk peternakan kambing organik
Nah, apabila saat ini Anda sedang beternak kambing gibas segera terapkan cara ini.

Anda akan melihat hasil positif yang terjadi. Dan Anda akan mendapatkan hasil maksimal dari budidaya ternak kambing gibas yang Anda geluti. Selamat mencoba.





                                     SALAM SUKSES !!

KONSULTASI DAN PEMESANAN PRODUK NASA:

HENDY SUSANTO ST 

TELKOMS : 0813 7254 3994
IND XL       :0877 4977 9087
INDOSAT   :0857 9930 0051

BBM 7FEEDB79

MELAYANI PEMESANAN DALAM DAN LUAR NEGERI, GROSIR & ECER.
Distributor dan Reseller Silahkan hubungi kontak diatasMELAYANI PEMESANAN DALAM DAN LUAR NEGERI, GROSIR & ECER.
Distributor dan Reseller Silahkan hubungi kontak diatas.

BUDIDAYA AYAM PETELUR

[BUDIDAYA AYAM PETELUR]

#Teknik Budidaya Ayam Petelur#

AYAM PETELUR

ayam petelurAyam petelur adalah ayam-ayam betina dewasa yang dipelihara khusus untuk diambil telurnya. Asal mula ayam unggas adalah berasal dari ayam hutan dan itik liar yang ditangkap dan dipelihara serta dapat bertelur cukup banyak. Tahun demi tahun ayam hutan dari wilayah dunia diseleksi secara ketat oleh para pakar. Arah seleksi ditujukan pada produksi yang banyak, karena ayam hutan tadi dapat diambil telur dan dagingnya maka arah dari produksi yang banyak dalam seleksi tadi mulai spesifik. Ayam yang terseleksi untuk tujuan produksi daging dikenal dengan ayam broiler, sedangkan untuk produksi telur dikenal dengan ayam petelur. Selain itu, seleksi juga diarahkan pada warna kulit telur hingga kemudian dikenal ayam petelur putih dan ayam petelur cokelat. 

Persilangan dan seleksi itu dilakukan cukup lama hingga menghasilkan ayam petelur seperti yang ada sekarang ini. Dalam setiap kali persilangan, sifat jelek dibuang dan sifat baik dipertahankan (“terus dimurnikan”). Inilah yang kemudian dikenal dengan ayam petelur unggul.
Jenis ayam petelur dibagi menjadi dua tipe:
Tipe Ayam Petelur Ringan.

Tipe ayam ini disebut dengan ayam petelur putih. Ayam petelur ringan ini mempunyai badan yang ramping/kurus-mungil/kecil dan mata bersinar. Bulunya berwarna putih bersih dan berjengger merah. Ayam ini berasal dari galur murni white leghorn. Ayam galur ini sulit dicari, tapi ayam petelur ringan komersial banyak dijual di Indonesia dengan berbagai nama.
 Tipe Ayam Petelur Medium.
Bobot tubuh ayam ini cukup berat. Meskipun itu, beratnya masih berada diantara berat ayam petelur ringan dan ayam broiler. Oleh karena itu ayam ini disebut tipe ayam petelur medium. Tubuh ayam ini tidak kurus, tetapi juga tidak terlihat gemuk. Telurnya cukup banyak dan juga dapat menghasilkan daging yang banyak. Ayam ini disebut juga dengan ayam tipe dwiguna.Karena warnanya yang cokelat, maka ayam ini disebut dengan ayam petelur cokelat yang umumnya mempunyai warna bulu yang cokelat juga
Penyiapan Sarana & Peralatan

Kandang

Iklim kandang yg cocok untuk beternak ayam petelur meliputi persyaratan temperatur berkisar antara 32,2–35 °C.
kelembaban berkisar antara 60–70%.
penerangan  atau pemanasan kandang sesuai dgn aturan yg ada.
tata letak kandang agar mendapat sinar matahari pagi dan  tidak melawan arah mata angin kencang serta sirkulasi udara yg baik.
jangan membuat kandang dgn permukaan lahan yg berbukit karena menghalangi sirkulasi udara dan  membahayakan aliran air permukaan bila turun hujan, sebaiknya kandang dibangun dgn sistem terbuka agar hembusan angin cukup memberikan kesegaran di dalam kandang.
Untuk kontruksi kandang tidak harus dgn bahan yg mahal, yg penting kuat, bersih & tahan lama.
perlengkapan kandang hendaknya disediakan selengkap mungkin seperti tempat pakan, tempat minum, tempat air, tempat ransum, tempat obat-obatan & sistem alat penerangan.
A. Bentuk-bentuk kandang berdasarkan sistemnya :
1. Sistem kandang koloni

Sistem satu kandang untuk banyak ayam yg terdiri dari ribuan ekor ayam petelur;
2. Sistem kandang individual

 Ciri dari kandang ini adalah pengaruh individu di dalam kandang tersebut menjadi dominan karena satu kotak kandang untuk satu ekor ayam. Kandang sistem ini banyak digunakan dalam peternakan ayam petelur komersial.
B. Jenis kandang berdasarkan lantainya :
1. Kandang dgn lantai liter

Kandang ini dibuat dgn lantai yg dilapisi kulit padi, pesak/sekam padi & kandang ini umumnya diterapkan pada kandang sistem koloni;
2. Kandang dgn lantai kolong berlubang

Lantai untuk sistem ini terdiri dari bambu dgn lubang-lubang diantaranya, yg nantinya untuk membuang tinja ayam & langsung ke tempat penampungan;
3. Kandang dgn lantai campuran liter dgn kolong berlubang

Perbandingan pembuatan kandang ini 40% luas lantai kandang untuk alas liter & 60% luas lantai dgn kolong berlubang (terdiri dari 30% di kanan & 30% di kiri).
Peralatan
A. Litter (alas lantai)

Alas lantai/litter harus dalam keadaan kering, maka tidak ada atap yg bocor dan  air hujan tidak  ada yg masuk walau angin kencang. Tebal litter setinggi 10 cm, bahan litter dipakai campuran dari kulit padi/sekam dgn sedikit kapur dan pasir secukupnya, atau hasil serutan kayu dgn panjang antara 3–5 cm untuk pengganti kulit padi/sekam.
B. Tempat bertelur

Penyediaan tempat bertelur agar mudah mengambil telur dan  kulit telur tidak  kotor, dapat dibuatkan kotak ukuran 30 x 35 x 45 cm yg cukup untuk 4–5 ekor ayam. Kotak diletakkan di dinding kandang dengan lebih tinggi dari tempat bertengger, penempatannya agar mudah pengambilan telur dari luar sehingga telur tidak pecah dan terinjak-injak serta dimakan. Dasar tempat bertelur dibuat miring dari kawat hingga telur langsung ke luar sarang setlah bertelur dan dibuat lubah yg lebih besar dari besar telur pada dasar sarang.
C. Tempat bertengger

Tempat bertengger untuk tempat istirahat/tidur, dibuat dekat dinding dan diusahakan kotoran jatuh ke lantai yang mudah dibersihkan dari luar. Dibuat tertutup agar terhindar dari angin dan letaknya lebih rendah dari tempat bertelur.
D. Tempat makan, minum dan tempat grit

Tempat makan dan minum harus tersedia cukup, bahannya dari bambu, almunium atau apa saja yang kuat & tdk bocor juga tdk berkarat. Untuk tempat grit dengan kotak khusus
Penyiapan Bibit
Ayam petelur yg akan dipelihara haruslah memenuhi syarat sebagai berikut, antara lain:

Ayam petelur harus sehat & tdk cacat fisiknya.
Pertumbuhan & perkembangan normal.
Ayam petelur berasal dari bibit yg diketahui keunggulannya.
Ada beberapa pedoman teknis untuk memilih bibit/DOC (Day Old Chicken)

Anak ayam (DOC ) berasal dari induk yg sehat.
Bulu tampak halus & penuh serta baik pertumbuhannya .
Tidak terdpt kecacatan pada tubuhnya.
Anak ayam mempunyak nafsu makan yg baik.
Ukuran badan normal, ukuran berat badan antara 35-40 gram.
Tidak ada letakan tinja diduburnya.
Pemeliharaan

Sanitasi & Tindakan Preventif

Kebersihan lingkungan kandang (sanitasi) pada areal peternakan merupakan usaha pencegahan penyakit yg paling murah, hanya dibutuhkan tenaga yg ulet/terampil saja. Tindakan preventif dengan memberikan produk nasa yang berupa poc nasa + viterna + hormonik dengan cara di campurkan di minuman dari ayam setelah masuk kandang serta memberikan vaksin pada ternak ayam.
Pemberian Pakan

Untuk pemberian pakan ayam petelur ada 2 (dua) fase yaitu fase starter (umur 0-4 minggu) dan  fase finisher (umur 4-6 minggu).

A. Fase starter ( 0 – 4 minggu )

Pakan fase starter tediri atas: protein 22 – 24%, lemak 2,5%, serat kasar 4%, kalsium 1%, dan fosfor 0,7 – 0,9%. Kuantitas pakan dibedakan menurut golongan umur, yakni sebagai berikut.

Minggu pertama (umur 1 – 7 hari): 17 gram/hari/ekor.
Minggu kedua (8 – 14 hari): 43 gram/hari/ekor.
Minggu ketiga (umur 15 – 21 hari): 66 gram/hari/ekor.
Minggu keempat (umur 22 – 29 hari): 91 gram/hari/ekor.
Dan pada Fase starter kebutuhan air minum terbagi lagi pada masing-masing minggu, yaitu

minggu ke-1 (1-7 hari) 1,8 lliter/hari/100 ekor.
minggu ke-2 (8-14 hari) 3,1 liter/hari/100 ekor.
minggu ke-3 (15-21 hari) 4,5 liter/hari/100 ekor.
minggu ke-4 (22-29 hari) 7,7 liter/hari/ekor.
Jangan lupa menambahkan produk nasa yang berupa poc nasa + viterna + hormonik ke dalam air minumnya dengan dosis 12.5 cc/ 10 liter air minum.

B. Fase finisher (umur 30-57 hari),

Pakan fase finisher terdiri atas : protein 18,1 – 21,2%, lemak 2,5%, serat kasar 4,5%, kalsium 1%, dan fosfor 0,7 – 0,9%. Kuantitas pakan dibedakan menurut golongan umur, yakni sebagai berikut.

Minggu kelima (umur 30 – 36 hari): 111 gram/ hari/ ekor.
Minggu keenam (37 – 43 hari): 129 gram/ hari/ ekor.
Minggu ketujuh (umur 44 – 50 hari): 146 gram/ hari/ ekor.
Minggu kedelapan (umur 51 – 57 hari): 161 gram/ hari/ ekor.
Dan pada Fase finisher  kebutuhan air minum terbagi dalam masing-masing minggu yaitu

minggu ke-5 (30-36 hari) 9,5 lliter/hari/100 ekor.
minggu ke-6 (37-43 hari) 10,9 liter/hari/100 ekor.
minggu ke-7 (44-50 hari) 12,7 liter/hari/100 ekor.
minggu ke-8 (51-57 hari) 14,1 liter/hari/ekor. Jadi total air minum 30-57 hari sebanyak 333,4 liter/hari/ekor.
Jangan lupa menambahkan produk nasa yang berupa poc nasa + viterna + hormonik ke dalam air minumnya dengan dosis 12.5 cc/ 10  liter air minum.

Pencegahan Penyakit

Serangan penyakit dapat dicegah dengan menjaga kebersihan kandang. Kandang harus selalu dibersihkan. Jika ada bagian yang rusak, harus segera diperbaiki. Agar kebal dari penyakit yang disebabkan virus, ayam perlu diberi vaksinasi. Vaksinasi untuk ayam antara lain vaksin NCD, vaksin cacar, dan vaksin anti-RCD. Ayam yang akan divaksinasi harus dalam keadaan sehat. Dosis vaksin juga harus tepat. Selain itu, alat yang digunakan juga harus steril.
Jangan lupa menambahkan produk nasa yang berupa poc nasa + viterna + hormonik ke dalam air minumnya dengan dosis 12.5 cc/ 10  liter air minum.Dan apabila ayam sudah menghasilkan telur maka pemberian produk nasa cuma viterna + poc nasa saja dan lakukan pemberian ke ternak per 3 hari sekali.
Pemanenan

Telur sebaiknya dipanen tiga kali sehari, yaitu pada pagi, siang, dan sore hari. Dengan demikian, kerusakan isi telur akibat virus dapat dihindari atau dikurangi. Telur selanjutnya diletakkan di atas egg tray (nampan telur). Telur abnormal harus dipisahkan dari telur normal.
Telur normal berbentuk oval, bersih, dan berkulit mulus. Beratnya sekitar 57,6 gram dengan volume 66 cc. Sementara telur abnormal adalah telur yang terlalu kecil, terlalu besar, bentuknya lonjong, atau kulitnya retak.

   
KONSULTASI DAN PEMESANAN PRODUK NASA:

HENDY SUSANTO ST 

TELKOMS : 0813 7254 3994
IND XL       :0877 4977 9087
INDOSAT   :0857 9930 0051

BBM 7FEEDB79

HAMA PADA TANAMAN JERUK

[HAMA PADA TANAMAN JERUK]

#Hama Dan Penyakit Tanaman Jeruk#
HAMA JERUK

Jeruk merupakan Tanaman yang tumbuh bagus di dataran tinggi.Namun untuk saat ini banyak para petani mengeluhkan banyaknya hama dan penyakit pada tanaman jeruk mereka.Dari segi kurangnya pengetahuan para petani indonesia tentang jenis-jenis hama dan penyakit pada tanaman jeruk,serta teknik penanggulangannya menggunakan pupuk Organik NASA yang berupa pestisida organik,maka akan sedikit saya kupas tentang hama dan penyakit tanaman jeruk tersebut.Adapun hama dan penyakit pada tanaman jeruk sbb :

HAMA

Kutu loncat ( Diaphorina citri )
Bagian diserang : tangkai, kuncup daun, tunas, daun muda.

Gejala :  tunas keriting, tanaman mati.
Pengendalian :
Pemakaian pupuk organik nasa yang berupa super nasa + pupuk kimia yang biasa di pakai ( di kurangi 30 % ).
Penyemprotan pestisida organik nasa yang berupa Pestona / Natural BVR,untuk penyemprotan  Pestona ( pestona + Aero-810 ) dengan dosis ( 5 + 1/4 )tutup / tangki semprot.Untuk penyemprotan Natural BVR ( natural BVR + Aero-810 ) dengan dosis ( 2 sendok makan + 1/4  tutup ) / tangki semprot.Lakukan penyemprotan di sore hari dengan interval 10 hari sekali.
Kutu daun (Toxoptera citridus aurantii, Aphis gossypii )
Bagian diserang : tunas muda dan bunga.

Gejala: daun menggulung dan membekas sampai daun dewasa.
Pengendalian: Penyemprotan pestisida organik nasa yang berupa Pestona / Natural BVR,untuk penyemprotan  Pestona ( pestona + Aero-810 ) dengan dosis ( 5 + 1/4 )tutup / tangki semprot.Untuk penyemprotan Natural BVR ( natural BVR + Aero-810 ) dengan dosis ( 2 sendok makan + 1/4  tutup ) / tangki semprot.Lakukan penyemprotan di sore hari dengan interval 10 hari sekali.
Ulat peliang daun ( Phyllocnistis citrella )
Bagian diserang : daun muda.

Gejala: alur melingkar transparan atau keperakan, tunas/daun muda mengkerut, menggulung, rontok.
Pengendalian:
Daun yang terinfeksi di potong lalu di potong.
Penyemprotan pestisida organik nasa yang berupa Pestona / Natural BVR,untuk penyemprotan  Pestona ( pestona + Aero-810 ) dengan dosis ( 5 + 1/4 )tutup / tangki semprot.Lakukan penyemprotan di sore hari dengan interval 10 hari sekali.
Tungau ( Tenuipalsus sp , Eriophyes sheldoni Tetranychus sp )

Bagian diserang : tangkai, daun dan buah.

Gejala: bercak keperak-perakan atau coklat pada buah dan bercak kuning atau coklat pada daun.
Pengendalian:
Penyemprotan dengan  menggunakan Produk nasa yang berupa pestona + Aero-810 dengan dosis ( 5 + 1/3 ) tutup /tangki semprot.lakukan penyemprotan di sore hari.
Atau menyemprotkan Produk NASA yang berupa Natural BVR dengan dosis 4 sendok makan Natural BVR / tangki semprot.Lakukan penyemprotan di sore hari.
 Penggerek buah ( Citripestis sagittiferella )
Bagian diserang : buah.

Gejala: lubang gerekan buah keluar getah.
Pengendalian:
memetik buah yang terinfeksi lalu di bakar.
Penyemprotan dengan  menggunakan Produk nasa yang berupa Pestona dengan cara (pestona + Aero-810 ) dosis ( 5 + 1/3 ) tutup /tangki semprot.lakukan penyemprotan di sore hari dan dengan interval 10 hari sekali.
Kutu penghisap daun ( Helopeltis antonii )
Bagian diserang : tunas, daun muda dan pentil.

Gejala: bercak coklat kehitaman dengan pusat berwarna lebih terang pada tunas dan buah muda, bercak disertai keluarnya cairan buah yang menjadi nekrosis.
Pengendalian : Penyemprotan dengan  menggunakan Produk nasa yang berupa Pestona dengan cara (pestona + Aero-810 ) dosis ( 5 + 1/3 ) tutup /tangki semprot.lakukan penyemprotan di sore hari dan dengan interval 10 hari sekali.
Thrips ( Scirtotfrips citri )
Bagian diserang : tangkai dan daun muda.

Gejala: helai daun menebal, tepi daun menggulung ke atas, daun di ujung tunas menjadi hitam, kering dan gugur, bekas luka berwarna coklat keabu-abuan kadang disertai nekrotis.
Pengendalian:
menjaga agar tajuk tanaman tidak terlalu rapat dan sinar matahari masuk ke bagian tajuk.
Hindari memakai mulsa jerami.
Penyemprotan dengan  menggunakan Produk nasa yang berupa Pestona dengan cara (pestona + Aero-810 ) dosis ( 5 + 1/3 ) tutup /tangki semprot.lakukan penyemprotan di sore hari dan dengan interval 10 hari sekali.
Apabila Thrips daunnya sudah  parah bisa di lakukan penyemprotan Natural Pentana dengan cara ( PENTANA + Aero-810) dosis ( 3 + 1/4 ) tutup / tangki semprot,lakukan penyemprotan 1 minggu sekali di sore hari.
Kutu dompolon ( Planococcus citri )
Bagian diserang : tangkai buah.

Gejala: berkas berwarna kuning, mengering dan buah gugur.
Pengendalian:
Penyemprotan pestisida organik nasa yang berupa Pestona / Natural BVR,untuk penyemprotan  Pestona ( pestona + Aero-810 ) dengan dosis ( 5 + 1/4 )tutup / tangki semprot.Untuk penyemprotan Natural BVR ( natural BVR + Aero-810 ) dengan dosis ( 2 sendok makan + 1/4  tutup ) / tangki semprot.Lakukan penyemprotan di sore hari dengan interval 10 hari sekali.
mencegah datangnya semut sebagai vektor kutu.
Lalat buah ( Dacus sp )
Bagian diserang : buah yang hampir masak.

Gejala: lubang kecil di bagian tengah, buah gugur, belatung kecil di bagian dalam buah.
Pengendalian: ditangkap dengan menggunakan Produk Nasa yaitu Metilat,dengan cara di oleskan di botol warna putih lalu di tancapkan sekitar 20 Pcs dengan jarak sekitar 20 m.
PENYAKIT

CVPD

Penyebab: Bacterium like organism dengan vektor kutu loncat Diaphorina citri. Bagian yang diserang: silinder pusat (phloem) batang. Gejala: daun sempit, kecil, lancip, buah kecil, asam, biji rusak dan pangkal buah oranye.
Pengendalian:
Gunakan bibit tanaman bebas CVPD. Lokasi kebun minimal 5 km dari kebun jeruk yang terserang CVPD.
Penyemprotan pestisida organik nasa yang berupa Pestona / Natural BVR,untuk penyemprotan  Pestona ( pestona + Aero-810 ) dengan dosis ( 5 + 1/4 )tutup / tangki semprot.Untuk penyemprotan Natural BVR ( natural BVR + Aero-810 ) dengan dosis ( 2 sendok makan + 1/4  tutup ) / tangki semprot.Lakukan penyemprotan di sore hari dengan interval 10 hari sekali.
Blendok

Penyebab: jamur Diplodia natalensis. Bagian diserang : batang atau cabang. Gejala: kulit ketiak cabang menghasilkan gom yang menarik perhatian kumbang, warna kayu jadi keabu-abuan, kulit kering dan mengelupas.
Pengendalian  :
pemotongan cabang terinfeksi.
Bekas potongan diolesi pupuk organik nasa yang berupa POC NASA + Hormonik . POC NASA dan Hormonik bukan berfungsi mengendalikan Blendok, namun dapat meningkatkan daya tahan terhadap serangan penyakit.
Embun tepung

Penyebab: jamur Oidium tingitanium. Bagian diserang : daun dan tangkai muda.

Gejala: tepung berwarna putih di daun dan tangkai muda.
Pengendalian:
Olah tanah yang bagus dengan memakai Pupuk Organik NASA yang berupa super nasa di campurkan pupuk kimia dasar yang biasa di pakai. pupuk kimia dasar bisa di kurangi 30 % dari anjuran dinas pertanian setempat.
Pemakaian Produk Nasa yang berupa Natural GLIO yang sudah di fermentasikan dengan pupuk kandang selama 2 minggu,cara fermentasinya 1 kotak Natural Glio di campurkan dengan 50 Kg pupuk kandang. Lalu masukkan ke lubang tanah di sekitar jeruk yang mau ditanamkan
Kudis
Penyebab: jamur Sphaceloma fawcetti. Bagian diserang : daun, tangkai atau buah.

Gejala: bercak kecil jernih yang berubah menjadi gabus berwarna kuning atau oranye.
Pengendalian:
pemangkasan teratur.
Olah tanah yang bagus dengan memakai Pupuk Organik NASA yang berupa super nasa di campurkan pupuk kimia dasar yang biasa di pakai. pupuk kimia dasar bisa di kurangi 30 % dari anjuran dinas pertanian setempat.
Pemakaian Produk Nasa yang berupa Natural GLIO yang sudah di fermentasikan dengan pupuk kandang selama 2 minggu,cara fermentasinya 1 kotak Natural Glio di campurkan dengan 50 Kg pupuk kandang. Lalu masukkan ke lubang tanah di sekitar jeruk yang mau di tanamkan
Busuk buah
Penyebab: Penicillium spp. Phytophtora citriphora, Botryodiplodia theobromae. Bagian diserang : buah.

Gejala: terdapat tepung-tepung padat berwarna hijau kebiruan pada permukaan kulit.
Pengendalian:
Hindari kerusakan mekanis.
Olah tanah yang bagus dengan memakai Pupuk Organik NASA yang berupa super nasa di campurkan pupuk kimia dasar yang biasa di pakai. pupuk kimia dasar bisa di kurangi 30 % dari anjuran dinas pertanian setempat.
Pemakaian Produk Nasa yang berupa Natural GLIO yang sudah di fermentasikan dengan pupuk kandang selama 2 minggu,cara fermentasinya 1 kotak Natural Glio di campurkan dengan 50 Kg pupuk kandang. Lalu masukkan ke lubang tanah di sekitar jeruk yang mau di tanamkan
Busuk akar dan pangkal batang
Penyebab: jamur Phyrophthora nicotianae. Bagian diserang : akar, pangkal batang serta daun di bagian ujung.

Gejala: tunas tidak segar, tanaman kering.
Pengendalian:
Olah tanah yang bagus dengan memakai Pupuk Organik NASA yang berupa super nasa di campurkan pupuk kimia dasar yang biasa di pakai. pupuk kimia dasar bisa di kurangi 30 % dari anjuran dinas pertanian setempat.
Pemakaian Produk Nasa yang berupa Natural GLIO yang sudah di fermentasikan dengan pupuk kandang selama 2 minggu,cara fermentasinya 1 kotak Natural Glio di campurkan dengan 50 Kg pupuk kandang. Lalu masukkan ke lubang tanah di sekitar mangga di tanamkan
Buah gugur prematur
Penyebab: jamur Fusarium sp. Colletotrichum sp. Alternaria sp. Bagian yang diserang: buah dan bunga.

Gejala: dua-empat minggu sebelum panen buah gugur.
Pengendalian:
Olah tanah yang bagus dengan memakai Pupuk Organik NASA yang berupa super nasa di campurkan pupuk kimia dasar yang biasa di pakai. pupuk kimia dasar bisa di kurangi 30 % dari anjuran dinas pertanian setempat.
Pemakaian Produk Nasa yang berupa Natural GLIO yang sudah di fermentasikan dengan pupuk kandang selama 2 minggu,cara fermentasinya 1 kotak Natural Glio di campurkan dengan 50 Kg pupuk kandang. Lalu masukkan ke lubang tanah di sekitar jeruk yang mau  di tanamkan
Jamur upas

Penyebab: Upasia salmonicolor. Bagian diserang : batang.

Gejala: retakan melintang pada batang dan keluarnya gom, batang kering dan sulit dikelupas.
Pengendalian:
Olah tanah yang bagus dengan memakai Pupuk Organik NASA yang berupa super nasa di campurkan pupuk kimia dasar yang biasa di pakai. pupuk kimia dasar bisa di kurangi 30 % dari anjuran dinas pertanian setempat.
Pemakaian Produk Nasa yang berupa Natural GLIO yang sudah di fermentasikan dengan pupuk kandang selama 2 minggu,cara fermentasinya 1 kotak Natural Glio di campurkan dengan 50 Kg pupuk kandang. Lalu masukkan ke lubang tanah di sekitar jeruk yang mau di tanamkan.

     
KONSULTASI DAN PEMESANAN PRODUK NASA:

HENDY SUSANTO ST 

TELKOMS : 0813 7254 3994
IND XL       :0877 4977 9087
INDOSAT   :0857 9930 0051

BBM 7FEEDB79

HORMON TUMBUHAN ATAU ZPT (ZAT PENGATUR TUMBUH)

HORMON TUMBUHAN

Hormon tumbuhan atau dikenal juga dengan istilah ZPT merupakan faktor pendukung yang dapat memberikan kontribusi besar dalam keberhasilan usaha budidaya pertanian. Namun perlu diingat  bahwa penggunaan hormon ini harus :
  • Dilakukan dengan sanagat tepat.
  • Pemahaman mengenai fungsi dan peran hormon terhadap laju pertumbuhan maupun perkembangan tanaman sangat penting.
Pada artikel ini akan kami uraikan mengenai ZPT (Zat Pengatur Tumbuh) dengan harapan bisa memberikan kontribusi dalam usaha agribisnis pertanian.

APA ITU HORMON TUMBUHAN

Hormon yang sering disebut juga fitohormon merupakan sekumpulan senyawa organik, baik yang terbentuk secara alami maupun buatan.
  • ZPT dalam kadar sangat kecil mampu menimbulkan suatu reaksi atau tanggapan baik secara biokimia, fisiologis maupun morfologis, yang berfungsi untuk mempengaruhi pertumbuhan, perkembangan, maupun pergerakan taksis tanaman atau tumbuhan baik dengan mendorong, menghambat, atau mengubahnya.
  • "Kadar kecil" yang dimaksud berada pada kisaran satu milimol per liter sampai satu mikromol per liter.
  • ZPT berbeda dengan unsur hara atau nutrisi tanaman, baik dari segi fungsi, bentuk, maupun senyawa penyusunnya.
Secara ilmiah, penggunaan istilah HORMON TUMBUHAN sebenarnya mengadopsi analogi fungsi hormon pada binatang. Dilihat dari cara produksinya, hormon pada tumbuhan berbeda dengan hormon pada binatang yang dihasilkan dari jaringan spesifik berupa kelenjar endokrin, tetapi ZPT ini dihasilkan oleh suatu jaringan nonspesifik, biasanya dari jaringan merismatik, yang dapat diproduksi jika mendapatkan rangsangan.

Penyebaraan hormon pada seluruh jaringan tumbuhan bisa terjadi dengan sangat mudah, karena penyebarannya bisa melalui ruang antarsel atau disebut dengan sitoplasma, sehingga dalam penyebarannya tersebut, Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) tidak harus melalui sistem pembuluh pengangkut.

Secara individu, tumbuhan akan memproduksi sendiri hormon setelah mengalami rangsangan. Proses produksi hormon dilakukan secara endogen oleh tumbuhan. Rangsangan yang dapat mempengaruhi produksi hormon misalnya :
  • Lingkungan.

    • Lingkungan merupakan faktor penting yang dapat memicu tumbuhan untuk memproduksi hormon. Setelah menghasilkan hormon hingga pada ambang konsentrasi tertentu, maka sejumlah gen yang semula tidak aktif akan mulai menunjukkan reaksi sehingga akan menimbulkan perubahan fisiologis pada tumbuhan. Dengan demikian, tumbuhan akan mulai menunjukkan ekpresi atas pengaruh suatu rangsangan yang telah memicu produksi hormon tersebut. Dari sudut pandang evolusi tumbuhan, hormon tumbuhan merupakan suatu mekanisme pertahanan diri terhadap pengaruh-pengaruh yang diterimanya sehingga dapat terus mempertahankan kelangsungan hidup jenisnya.

  • Hormon yang diterimanya dari luar.

    • Pemberian ZPT dari luar sistem individu disebut juga dengan hormon eksogen, yaitu dengan memberikan bahan kimia sintetik yang dapat berfungsi dan berperan seperti halnya hormon endogen, sehingga mampu menimbulkan rangsangan dan pengaruh pada tumbuhan seperti layaknya fitohormon alami.
Disisi lain zat pengatur tumbuh dapat berfungsi sebagai prekursor, yaitu senyawa yang dapat mendahului laju senyawa lain dalam proses metabolisme, dan merupakan bagian dari proses genetik tumbuhan itu sendiri. Oleh karena itu, untuk membedakan pengertian hormon pada tumbuhan dengan hormon pada binatang, maka dalam dunia pertanian dipakai istilah Zat Pengatur Tumbuh tumbuhan atau ZPT atau dalam bahasa Inggris disebut plant growth regulator/substances.

Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta kepentingan intensifikasi dalam budidaya di sektor pertanian, maka ZPT banyak digunakan terutama untuk meningkatkan kualitas serta kuantitas hasil produksi.

hormon tumbuhan zpt zat pengatur rumbuh

JENIS HORMON TUMBUHAN

Beberapa fungsi Hormon yang bisa diterapkan dalam dunia pertanian diantaranya ialah:

1. AUKSIN

Hormon Auksin banyak ditemukan pada akar, ujung batang, dan bunga. Fungsi hormon auksin dalam petumbuhan tanaman adalah sebagai pengatur pembesaran sel dan memicu pemanjangan sel di daerah belakang ujung meristem. Auksin berperan penting dalam pertumbuhan, sehingga dapat digunakan untuk memacu kecepatan pertumbuhan tanaman pada budidaya yang dilakukan secara intensif.

Dengan fungsi dan peran penting hormon auksin tersebut, maka dalam dunia pertanian sering digunakan seperti dalam membantu proses pertumbuhan (baik pertumbuhan akar maupun pertumbuhan batang), untuk memecah masa dormansi sehingga dapat mempercepat perkecambahan pada biji, membantu proses pembelahan sel sehingga dapat digunakan untuk mempercepat pembesaran jaringan tumbuhan, mempercepat pemasakan buah, serta untuk mengurangi jumlah biji dalam buah. Hormon auksin akan bekerja secara sinergis dengan dua hormon lain, yaitu sitokinin dan giberelin.

Tumbuhan yang mengalami etiolase atau kekurangan cahaya matahari dan hanya pada salah satu sisinya saja yang mendapat sinar mata hari, maka pertumbuhan sisi yang terkena sinar matahari akan lebih lambat dibanding dengan sisi yang tidak terkena sinar matahari. Hal ini disebabkan kerja hormon auksin terhambat oleh cahaya matahari. Sementara pada sisi tumbuhan yang tidak terkena sinar matahari biasanya akan tumbuh lebih cepat dan lebih panjang, karena hormon ini bekerja dengan optimal dan tidak terhambat oleh pengaruh cahaya matahari. Produksi hormon auksin yang berlebihan tersebut akan cenderung mengarahkan pertumbuhan pada ujung tumbuhan yang tidak terkena matahari menuju ke arah cahaya atau disebut proses fototropisme, sehingga produksi hormon ini dapat dikendalikan oleh individu tumbuhan tersebut.

Dengan pemahaman tersebut, maka dapat dibuat analogi secara sederhana mengenai tumbuhan yang kelebihan hormon auksin. Jika suatu tumbuhan ditempatkan di tempat yang kekurangan sinar matahari, maka pertumbuhannya akan lebih cepat dibanding dengan di tempat terbuka. Bekerjanya hormon auksin pada tumbuhan yang tumbuh dengan kekurangan sinar matahari mengakibatkan pertumbuahan batang yang lebih besar dan panjang dengan warna daun agak kekuningan, dan struktur batang tampak lebih lemah atau lemas. Sedangkan tumbuhan di tempat terbuka, produksi hormon auksin terhambat oleh sinar matahari sehingga pertumbuhannya sedikit terhambat, tetapi memiliki struktur batang yang kokoh dan warna hijau daun yang lebih gelap.

Secara umum, sistem kerja hormon auksin adalah menginisiasi pemanjangan dan pembesaran sel serta memacu protein tertentu yg ada di membran plasma sel untuk memompa ion H+ ke dinding sel. Ion H+ mengaktifkan enzim tertentu sehingga memutuskan beberapa ikatan silang hidrogen dengan rantai molekul selulosa penyusun dinding sel. Sel tumbuhan kemudian memanjang akibat air yang masuk secara osmosis melalui dinding sel. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa auksin merupakan salah satu zat pengatur tumbuh yang banyak mempengaruhi proses fisiologi, seperti pertumbuhan, pembelahan dan diferensiasi sel serta sintesa protein.

Menurut Gardner, dkk., 1991, tumbuhan memproduksi hormon auksin dalam jaringan meristem aktif, yaitu jaringan tumbuhan yang memiliki sel aktif yang dapat membelah dengan cepat. Jaringan meristem pada tumbuhan, misalnya tunas di ketiak daun, pucuk tanaman, daun muda, dan buah. Setelah diproduksi dalam jaringan tersebut, auksin akan menyebar ke seluruh bagian tumbuhan dengan arah penyebaran dari bagian atas tumbuhan ke bagian bawah hingga mencapai titik tumbuh akar. Penyebaran auksin tersebut melalui jaringan pembuluh tapis (floem) atau jaringan parenkhim. Auksin merupakan hormon yang juga dikenal dengan istilah Indole Acetic Acid (IAA), atau asam indolasetat, sebagai auksin utama pada tanaman, yang mengalami proses biosintesis dari asam amino prekursor triptopan, dengan hasil perantara sejumlah substansi yang secara alami mirip auxin (analog) tetapi mempunyai aktifitas lebih kecil dari IAA seperti IAN (Indolaseto nitril), TpyA (Asam Indolpiruvat) dan IAAld (Indolasetatdehid). Proses biosintesis auxin dibantu oleh enzim IAA-oksidase.

IAA atau C10H9O2N, sebagai rumus kimia auksin, merupakan hasil isolasi yang dilakukan pada tahun 1928, dengan menggunakan tepung sari bunga yang tidak aktif. Dengan ditemukannya IAA, maka untuk perkembangan selanjutnya seiring dengan kemajuan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, dapat diciptakan auksin sintesis, seperti Amiben atau Kloramben (Asam3-amino2, 5–diklorobenzoat), Hidrazil atau 2,4-D (asam-Nattalenasetat), Bonvel Da2, 4-Diklorofenolsiasetat), Pikloram/Tordon (asam4–amino–3,5,6–trikloro–pikonat), dan NAA (asam (asam 3,6-Dikloro-O-anisat/dikambo).

Fungsi auksin dalam pertumbuhan tanaman

  • Pemberian auksin pada biji atau benih akan memecah dormansi dan akan merangsang proses perkecambahan biji. Perendaman biji/benih dengan auksin juga dapat meningkatkan kuantitas hasil panen.
  • Memacu proses terbentuknya akar serta pertumbuhan akar dengan lebih baik.
  • Auksin akan merangsang dan mempertinggi prosentase timbulnya bunga dan buah.
  • Merangsang terjadinya proses Partenokarpi. Partenokarpi adalah suatu kondisi dimana tumbuhan mampu membentuk buah tanpa proses fertilisasi atau penyerbukan, sehingga dengan pemberian hormon auksin dapat menghasilkan buah tanpa biji.
  • Mengurangi gugurnya buah sebelum waktunya.
  • Memecah dormansi pucuk/apikal, yaitu suatu kondisi dimana pucuk tumbuhan atau akar tidak mau berkembang.

2. SITOKININ

Hormon sitokinin berperan penting dalam merangsang pembelahan sel tumbuhan. Sitokonin berasal dari kata cytokinin yang berarti terkait dengan pembelahan sel. Senyawa dari hormon sitokinin yang pertama kali ditemukan adalah kinetin. Pada awalnya, kinetin diperoleh dari ekstrak sperma burung bangkai, namun kemudian diketahui bahwa kinetin juga bisa ditemukan pada manusia dan tumbuhan. Selain kinetin, senyawa lain yang dapat berfungsi sebagai hormon sitokinin adalah zeatin. Zeatin bisa diperoleh dari ekstrak biji jagung yang masih muda. Kemudian pada perkembangan berikutnya, zeatin juga diketahui sebagai komponen aktif utama pada air kelapa. Dengan demikian, air kelapa juga memiliki kemampuan untuk merangsang pembelahan sel. Sitokinin alami lain misalnya adalah 2iP. Sitokinin alami merupakan turunan dari purin. Sitokinin sintetik kebanyakan dibuat dari turunan purin pula, seperti N6-benziladenin (N6-BA) dan 6-benzilamino-9-(2-tetrahidropiranil-9H-purin) (PBA).

Fungsi sitokinin bagi pertumbuhan tanaman

  • Memacu pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan dengan merangsang proses pembelahan dan pembesaran sel.
  • Merangsang perkecambahan dengan memecah fase dormansi pada biji, sehingga pertumbuhan bibit dapat berlangsung dengan cepat.
  • Memacu pertumbuhan tunas-tunas baru.
  • Hormon sitokinin dapat menunda penuaan pada hasil panen, sehingga daya tahan hasil panen lebih lama.
  • Menaikkan tingkat mobilitas unsur-unsur dalam tumbuhan.
  • Sintesis pembentukan protein akan meningkat dengan pemberian hormon sitokinin.

3. GIBERELIN

Jenis hormon yang mempunyai kemiripan sifat dengan auksin ini merupakan zat pengatur tumbuh yang dapat ditemukan pada hampir semua siklus hidup tumbuhan. Giberelin sering disebut dengan GA (gibberellic acid) atau asam giberelat.

Dalam tumbuhan, melalui xilem dan floem hormon giberelin (GA) ditransportasikan ke seluruh bagian tumbuhan. Giberelin banyak dijumpai pada tumbuhan paku, jamur, lumur, gymnospermae, dan angiospermae (terdapat pada biji muda, pucuk batang, ujung akar, dan daun muda).

Zat pengatur tumbuh ini dapat ditemukan dalam dua fase utama yaitu giberelin aktif (GA Bioaktif) dan giberelin nonaktif. GA bioaktif inilah yang mengontrol pertumbuhan dan perkembangan seluruh tumbuhan baik akar, daun maupun batang tanaman, seperti pengembangan benih, perkecambahan biji, pertumbuhan tunas, pertumbuhan daun, merangsang pembungaan, perkembangan buah, perpanjangan batang, serta deferensiasi akar.

Pemberian giberelin di bawah tajuk tumbuhan dapat meningkatkan laju fotosintesis. Daun tumbuhan berkembang secara signifikan karena hormon ini memacu pertumbuhan daun, terjadi peningkatan pembelahan sel dan pertumbuhan sel yang mengarah pada perkembangan daun. Selain itu juga memacu pemanjangan batang tumbuhan.

4. ETILENA/ETENA/GAS ETILEN

Zat pengatur tumbuh (ZPT) ini adalah satu-satunya hormon yang hanya terdiri dari satu substansi saja, yaitu etena. Etena atau etilena ini merupakan senyawa alkena yang paling sederhana karena hanya terdiri dari 2 atom karbon, dan 4 atom hidrogen. Unsur-unsur ini terhubung oleh ikatan rangkap. Adanya ikatan rangkap penghubung inilah etena juga disebut sebagai olefin (hidrokarbon tak jenuh). Pada tumbuhan, senyawa etilen dijumpai dalam bentuk gas sehingga disebut juga sebagai gas etilen. Pada buah, proses pembusukan mengeluarkan gas ini, karena gas etilen dihasilkan oleh tumbuhan untuk melakukan proses senesens. Proses senesens merupakan proses penuaan yang irreversible (tidak dapat kembali), akhirnya menuju pembusukan. Selain etilen berperan dalam pematangan buah, gas etilen juga berperan dalam pengguguran daun.

Dalam pertumbuhan, etilen mempunyai banyak fungsi, yaitu membantu pemasakan buah, memacu pembungaan, merangsang pemekaran bunga, merangsang pertumbuhan akar dan batang tumbuhan, merangsang absisi (pengguguran) buah dan daun, memacu perkecambahan biji, menghambat pemanjangan batang kecambah, memperkokoh pertumbuhan batang tumbuhan, serta mengakhiri masa dormansi.
Bersama-sama dengan giberelin, etilen berfungsi dalam mengatur perbandingan bunga jantan dan betina pada tumbuhan berumah satu.

Sebetulnya para petani sudah sering memanfaatkan etena dalam kehidupan sehari-hari, seperti pada saat melakukan pemeraman buah.
Bahkan dalam beberapa masalah mereka juga menggunakan etilen sintetik seperti ethephon (asam 2-kloroetil-fosfonat) dengan merk dagang Ethrel untuk membantu pemasakan cabe, beta-hidroksil-etilhidrazina (BOH) untuk memacu pembentukan bunga pada tanaman nanas, maupun pengarbitan buah untuk mempercepat proses pemasakan.

5. TRIAKONTANOL

Triakontanol (TRIA) merupakan senyawa yang tidak larut dalam air, terdiri dari 30 karbon dan merupakan alkohol primer jenuh.
ZPT ini berpotensi meningkatkan hasil tanaman, meskipun mekanisme kerjanya belum sepenuhnya diketahui. Pada berbagai penelitian, triakontanol berfungsi meningkatkan rasio gula asam pada budidaya jeruk, serta mampu meningkatkan produksi teh.
Penyemprotan hormon triakontanol dengan konsentrasi rendah pada daun kecambah seperti pada tanaman jagung, tomat, padi menunjukkan peningkatan pertumbuhan.

6. INHIBITOR

Inhibitor merupakan salah satu jenis zpt yang menghambat atau menurunkan laju reaksi kimia, tersebar di setiap organ tumbuhan, dan menghambat pertumbuhan batang. Pada fase dormansi inhibitor bekerja dengan baik. Hormon jenis ini juga ditemukan pada fase pertumbuhan pucuk tumbuhan dan fase perkecambahan.

Tumbuhan akan membentuk inhibitor secara alami yang disebut dengan asam ABA (Asam absisat). Meskipun demikian penambahan hormon juga dihasilkan oleh cendawan dan alga hijau. Asam absisat memiliki 15 atom karbon dan merupakan molekul seskuiterpenoid.
Penerapan hormon inhibitor dalam budidaya pertanian adalah ketika akan mencegah pertunasan baru dan memperbesar umbi tanaman. Diharapkan dengan ZPT ini, pertumbuhan umbi menjadi optimal. Penggunaan inhibitor banyak dimanfaatkan petani untuk membantu mengoptimalkan hasil tanaman berumbi seperti pada budidaya kentang,budidaya bawang, dan sejenisnya.

7. PACLOBUTRAZOL

Paclobutrazol merupakan salah satu jenis hormon yang berfungsi menghambat biosistesis giberelin. Pemakaian hormon ini dapat membantu pohon berbuah di luar musim. Pertumbuhan vegetatif tanaman terhambat yang akhirnya memacu pertumbuhan generatif. Pohon berhenti tumbuh (terhambat) diikuti munculnya kuncup bunga yang akhirnya menghasilkan buah.
  • Sumber  : www.tanijogonegoro.com
  • Semoga bisa menambah wawasan pertanian kita semua.
  • Terimakasih.

        
     KONSULTASI DAN PEMESANAN PRODUK NASA:

     HENDY SUSANTO ST 

     TELKOMS : 0813 7254 3994
     IND XL       :0877 4977 9087
     INDOSAT   :0857 9930 0051

     BBM 7FEEDB79